Rated: T
(2) Aku menyesalinya.
Kau adalah sahabatku. Orang yang paling
ku percaya. Sekaligus orang yang berkhianat padaku. Ingin ku tampik
kenyataan apabila dirimulah penyebab renggangnya hubunganku dengan
kekasihku. Namun ku tak bisa.
Aku
membencimu. Itulah yang tertera di hatiku setelah kau memaksaku
sekaligus mengancamku untuk menerima perjodohan yang kau tawarkan.
Tawarkan..? Kheh.. lebih tepat jika disebut pemaksaan.
Sejak
kapan kau menjadi perusak hubungan orang seperti ini? Sebegitu putus
asanyakah kau karena tak mendapatkan jodohmu..? Tapi mengapa aku?
Mengapa hubunganku lah yang kau rusak?
Kau
tau, aku sudah cukup sakit hati saat ibu membandingkan kekasihku dengan
mu. Entah apa yang dilihat ibu darimu. Dasar pengkhianat!
Karena
dirimu hubunganku dengannya menjadi semakin renggang. Apa kau
memanfaatkan situasi dimana aku telah bercerita kepadamu bila dia tak
dapat dihubungi karena sibuk? Jika memang benar begitu, aku menyesal
karena telah membiarkan diriku sendiri menceritakannya padamu.
Banyak
pertanyaan yang terlintas dalam kepalaku. Mengapa kau merusak
hubunganku dengannya? Apa kau menyukaiku? Masih bisakah aku menganggapmu
sebagai sahabat? Masih bisakah aku mempercayaimu?
Kau
tau, kita tumbuh dan berkembang bersama. Kau telah ku anggap sebagai
saudara sendiri, namun mengapa kau bersikap demikian terhadapku? Apa
salahku?
Jika
kau ingin membantu ayahku yang dilanda pailit dalam perusahaannya, maka
lakukanlah tanpa pamrih. Kau takut keluarga kami kabur setelah mendapat
suntikan dana dari keluargamu? Yang benar saja! Kami bukanlah kacang
yang lupa kulitnya!
Aku
mengacuhkanmu bukan karena aku ingin. Aku mengabaikan eksistensimu juga
bukan karena aku ingin. Tapi karena kekasihku yang memintanya, karena
kekasihku akan kembali kepadaku apabila aku mengacuhkan dan mengabaikan
eksistensimu. Menganggap seolah kau tak pernah ada. Dan aku
melakukannya.
Hubungan
kami semakin membaik. Tapi itu tak menjamin apa-apa. Kau, dengan segala
rencana yang telah tersusun rapi dalam kepalamu menghancurkan semua
usahaku. Kau mencuri semua waktu yang kusediakan untuknya, dan aku
membenci mu karena aku harus memberikan waktu yang seharusnya menjadi
miliknya kepadamu karena kau mengancamku.
Oh..
ayolah,. Kupikir kau tak sekejam itu. Aku pernah mengabaikan
permintaanmu untuk menemanimu makan siang karena waktu itu aku juga
mempunyai janji dengan kekasihku untuk makan siang, tapi ternyata kau
mengancam ku, tidak.. kau bahkan melakukan ancaman mu. Ternyata selama
ini aku salah. Sahabat yang ku kira baik padaku entah dari kapan telah
menjelma sebagai iblis yang jahat!
Aku
menurutimu bagai budak yang menuruti tuannya. Tapi setidaknya kau
memberikanku kebebasan dengan cara kau yang sering pergi ke luar negeri
tanpa mengajakku. Tentu saja aku takkan menyia-nyiakan kesempatan itu,
aku pergi dan melakukan apapun yang kuinginkan bersama kekasihku saat
aku tak sedang dalam jangkauanmu. Apakah aku sudah bilang jika aku tetap
berpacaran dengannya walau aku dan kau dijodohkan..? Bagiku masa bodoh
dengan perjodohan itu, yang terpenting adalah aku dan kekasih ku masih
dapat melanjutkan hubungan ini walau tanpa restu sekalipun.
***
Tak
terasa 11 bulan sudah terlewati, tapi entah mengapa akhir-akhir ini kau
sering bepergian ke luar negeri dan jarang menemuiku lagi. Itu bagus,
setidaknya aku tak perlu repot-repot mencuri waktu hanya untuk berduaan
dengan kekasihku.
Hingga
hari itu tiba, saat kau memintaku untuk menemanimu yang tengah
berbaring di ranjang rumah sakit. Kau tau, sebenarnya aku bingung
mengapa kau menyuruhku menemanimu yang hanya berbaring disana.
Jika kau hanya ingin menarik simpatiku, maaf.. aku sangat tak bersimpati
padamu jika kau berpura-pura menjadi orang sakit. Tapi satu hal yang ku
tau, dalam lubuk hatiku aku masih mengkhawatirkanmu, tapi
melihat apa yang telah kau perbuat terhadapku selama ini.. entah mengapa
rasa khawatirku hillang begitu saja dalam sekejap.
Kau
sangat cerewet untuk ukuran orang sakit, kau bercerita tentang indahnya
masa kita yang dulu. Tapi aku menghiraukan semuanya. Namun aku bingung
saat kau tiba-tiba menghentikan celotehmu dan mulai menggengggam
tanganku lalu menangis. Jika aku bisa jujur pada diriku sendiri,
sebenarnya aku khawatir, tapi ego ini sangat tinggi untuk ku rendahkan
barang secenti. Semua berlalu cepat, kau semakin erat menggenggam
tanganku dan menangis semakin deras, tapi aku tak membalas genggaman
tanganmu karena aku yakin ini hanyalah bagian dari sandiwaramu. Hingga
kau menyuruhku untuk tersenyum, dan aku melakukannya. Walau tak ikhlas.
Kau membalas senyumanku dengan senyuman mirismu, lalu dengan terbata kau
mengucapkan..
"Aku
meninggalkan hadiah yang istimewa untukmu, ini adalah kado terakhirku
untukmu. Setelah ini berbahagialah, pilihlah pengantin yang baik dan
sepadan denganmu karena aku tak lagi ada untukmu. Kau harus memilih
dengan benar, karena tak ada lagi diriku yang akan memastikan apakah
memang benar dialah yang kau pilih yang cocok menjadi pengantinmu kelak.
Aku akan pergi, menjauh dari hidupmu, dan tak akan menganggumu lagi.
Aku melepasmu dari segala belenggu ini. Satu hal yang ingin ku utarakan
dari dulu. Aku mencintaimu.. selalu.. dan selamanya."
Lalu
kau menutup mata dan perlahan genggaman tanganmu mengendur. Awalnya aku
tak bereaksi apa-apa. Hingga satu menit kemudian kau tak bergerak aku
mulai panik, ku periksa aliran napas dari hidungmu yang telah tiada, ku
dengarkan detak jantungmu yang ku harap masih ada namun nyatanya tidak,
aku dengan tergesa memanggil dokter namun saat aku membuka pintu kamar
inapmu aku menemukan ibuku yang menangis pilu sedang bersandar di
dinding dekat pintu. Aku tak bodoh, aku dapat menyimpulkan.. ibuku yang
seorang dokter.. menangis didepan kamar pasien.. pasti beliau telah
mengetahui segalanya. Dan entah sejak kapan aku menitikkan air mata
untuk pengkhianat sepertimu, kau meninggalkanku. Aku memang senang akan
kenyataan itu, itu artinya aku terbebas darimu. Tapi bukan ini yang ku
mau, aku tak menginginkan perpisahan yang menyakitkan ini. Tapi aku
harus menerimanya.
Dan aku tau.. bila penyesalanku menamparku dengan keras setelah ini.
***
Hari
yang seharusnya membahagiakan untukku, berubah menjadi duka. Aku tak
menyangka bila kau telah menanggung banyak derita demi diriku. Ku
mohon.. maafkanlah aku.
Keesokan
harinya jasadmu telah dimakamkan disamping makam adikmu, seperti
keinginanmu yang kau tulis dalam suratmu untuk kedua orang tuamu, aku
tak menyangka kau akan meninggalkanku secepat ini.
Beberapa
jam setelah pemakamanmu, aku diberi satu kotak yang berisi buku diari,
foto, serta kalung. Kau memaparkan segalanya padaku. Mulai dari
perselingkuhan kekasihku yang kau sertakan dengan foto sebagai buktinya,
tentang kekasihku yang hanya menginginkan hartaku dengan bukti kalung
yang ku berikan padanya ternyata ia jual ke toko perhiasan dan kau
membelinya kembali, lalu tentang penyakitmu, tentang kau yang berobat
kepada ibuku, tentang kau yang sering ke luar negeri karena berobat, dan
alasan mengapa kau menyembunyikan segalanya dari orang-orang yang kau
kasihi.
Aku
menyesal, aku salah mengartikanmu selama ini. Kau hanya bermaksud untuk
melindungiku, namun aku malah menarik kesimpulan lain. Mengapa kau tak
menyadarkanku saja?! Aku merasa sangat kehilanganmu, di hati ini..
seperti ada sebuah ruang yang kosong karena kepergianmu.
Aku
memutuskan kekasihku setelah tau kebenarannya. Walau dia memohon padaku
agar aku mendengarkan semua penjelasannya namun aku tak peduli, aku
terlanjur kecewa padanya.
Hari-hari
ku berjalan lambat, tanpa kehadiranmu.. tak ada lagi yang dapat
mewarnai kehidupanku. Dan aku sadar satu hal setelah satu bulan kau
pergi dari sisiku. Bila aku mencintaimu. Dan cinta ini telah
bersemayam jauh sebelum aku berpacaran dengan mantan kekasihku, namun
aku terlalu naif untuk menganggapnya sebagai perasaan cinta.
Maka
biarkan aku menikmati perasaanku yang menyakitkan ini. Biarkan aku
menikmati perasaan cinta yang mengundang derita, karena aku tak dapat
memilikimu sebagai balasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar