Jumat, 01 Juni 2018

Happy in the Dark

Genre: Romance, Hurt/Comfort 
Rated: T

(2) Aku menyesalinya. 



Kau adalah sahabatku. Orang yang paling ku percaya. Sekaligus orang yang berkhianat padaku. Ingin ku tampik kenyataan apabila dirimulah penyebab renggangnya hubunganku dengan kekasihku. Namun ku tak bisa.

Aku membencimu. Itulah yang tertera di hatiku setelah kau memaksaku sekaligus mengancamku untuk menerima perjodohan yang kau tawarkan. Tawarkan..? Kheh.. lebih tepat jika disebut pemaksaan.

Sejak kapan kau menjadi perusak hubungan orang seperti ini? Sebegitu putus asanyakah kau karena tak mendapatkan jodohmu..? Tapi mengapa aku? Mengapa hubunganku lah yang kau rusak?

Kau tau, aku sudah cukup sakit hati saat ibu membandingkan kekasihku dengan mu. Entah apa yang dilihat ibu darimu. Dasar pengkhianat!

Karena dirimu hubunganku dengannya menjadi semakin renggang. Apa kau memanfaatkan situasi dimana aku telah bercerita kepadamu bila dia tak dapat dihubungi karena sibuk? Jika memang benar begitu, aku menyesal karena telah membiarkan diriku sendiri menceritakannya padamu.

Banyak pertanyaan yang terlintas dalam kepalaku. Mengapa kau merusak hubunganku dengannya? Apa kau menyukaiku? Masih bisakah aku menganggapmu sebagai sahabat? Masih bisakah aku mempercayaimu?

Kau tau, kita tumbuh dan berkembang bersama. Kau telah ku anggap sebagai saudara sendiri, namun mengapa kau bersikap demikian terhadapku? Apa salahku?

Jika kau ingin membantu ayahku yang dilanda pailit dalam perusahaannya, maka lakukanlah tanpa pamrih. Kau takut keluarga kami kabur setelah mendapat suntikan dana dari keluargamu? Yang benar saja! Kami bukanlah kacang yang lupa kulitnya!

Aku mengacuhkanmu bukan karena aku ingin. Aku mengabaikan eksistensimu juga bukan karena aku ingin. Tapi karena kekasihku yang memintanya, karena kekasihku akan kembali kepadaku apabila aku mengacuhkan dan mengabaikan eksistensimu. Menganggap seolah kau tak pernah ada. Dan aku melakukannya.

Hubungan kami semakin membaik. Tapi itu tak menjamin apa-apa. Kau, dengan segala rencana yang telah tersusun rapi dalam kepalamu menghancurkan semua usahaku. Kau mencuri semua waktu yang kusediakan untuknya, dan aku membenci mu karena aku harus memberikan waktu yang seharusnya menjadi miliknya kepadamu karena kau mengancamku.

Oh.. ayolah,. Kupikir kau tak sekejam itu. Aku pernah mengabaikan permintaanmu untuk menemanimu makan siang karena waktu itu aku juga mempunyai janji dengan kekasihku untuk makan siang, tapi ternyata kau mengancam ku, tidak.. kau bahkan melakukan ancaman mu. Ternyata selama ini aku salah. Sahabat yang ku kira baik padaku entah dari kapan telah menjelma sebagai iblis yang jahat!

Aku menurutimu bagai budak yang menuruti tuannya. Tapi setidaknya kau memberikanku kebebasan dengan cara kau yang sering pergi ke luar negeri tanpa mengajakku. Tentu saja aku takkan menyia-nyiakan kesempatan itu, aku pergi dan melakukan apapun yang kuinginkan bersama kekasihku saat aku tak sedang dalam jangkauanmu. Apakah aku sudah bilang jika aku tetap berpacaran dengannya walau aku dan kau dijodohkan..? Bagiku masa bodoh dengan perjodohan itu, yang terpenting adalah aku dan kekasih ku masih dapat melanjutkan hubungan ini walau tanpa restu sekalipun.

***

Tak terasa 11 bulan sudah terlewati, tapi entah mengapa akhir-akhir ini kau sering bepergian ke luar negeri dan jarang menemuiku lagi. Itu bagus, setidaknya aku tak perlu repot-repot mencuri waktu hanya untuk berduaan dengan kekasihku.

Hingga hari itu tiba, saat kau memintaku untuk menemanimu yang tengah berbaring di ranjang rumah sakit. Kau tau, sebenarnya aku bingung mengapa kau menyuruhku menemanimu yang hanya berbaring disana. Jika kau hanya ingin menarik simpatiku, maaf.. aku sangat tak bersimpati padamu jika kau berpura-pura menjadi orang sakit. Tapi satu hal yang ku tau, dalam lubuk hatiku aku masih mengkhawatirkanmu, tapi melihat apa yang telah kau perbuat terhadapku selama ini.. entah mengapa rasa khawatirku hillang begitu saja dalam sekejap.

Kau sangat cerewet untuk ukuran orang sakit, kau bercerita tentang indahnya masa kita yang dulu. Tapi aku menghiraukan semuanya. Namun aku bingung saat kau tiba-tiba menghentikan celotehmu dan mulai menggengggam tanganku lalu menangis. Jika aku bisa jujur pada diriku sendiri, sebenarnya aku khawatir, tapi ego ini sangat tinggi untuk ku rendahkan barang secenti. Semua berlalu cepat, kau semakin erat menggenggam tanganku dan menangis semakin deras, tapi aku tak membalas genggaman tanganmu karena aku yakin ini hanyalah bagian dari sandiwaramu. Hingga kau menyuruhku untuk tersenyum, dan aku melakukannya. Walau tak ikhlas. Kau membalas senyumanku dengan senyuman mirismu, lalu dengan terbata kau mengucapkan..

"Aku meninggalkan hadiah yang istimewa untukmu, ini adalah kado terakhirku untukmu. Setelah ini berbahagialah, pilihlah pengantin yang baik dan sepadan denganmu karena aku tak lagi ada untukmu. Kau harus memilih dengan benar, karena tak ada lagi diriku yang akan memastikan apakah memang benar dialah yang kau pilih yang cocok menjadi pengantinmu kelak. Aku akan pergi, menjauh dari hidupmu, dan tak akan menganggumu lagi. Aku melepasmu dari segala belenggu ini. Satu hal yang ingin ku utarakan dari dulu. Aku mencintaimu.. selalu.. dan selamanya."

Lalu kau menutup mata dan perlahan genggaman tanganmu mengendur. Awalnya aku tak bereaksi apa-apa. Hingga satu menit kemudian kau tak bergerak aku mulai panik, ku periksa aliran napas dari hidungmu yang telah tiada, ku dengarkan detak jantungmu yang ku harap masih ada namun nyatanya tidak, aku dengan tergesa memanggil dokter namun saat aku membuka pintu kamar inapmu aku menemukan ibuku yang menangis pilu sedang bersandar di dinding dekat pintu. Aku tak bodoh, aku dapat menyimpulkan.. ibuku yang seorang dokter.. menangis didepan kamar pasien.. pasti beliau telah mengetahui segalanya. Dan entah sejak kapan aku menitikkan  air mata untuk pengkhianat sepertimu, kau meninggalkanku. Aku memang senang akan kenyataan itu, itu artinya aku terbebas darimu. Tapi bukan ini yang ku mau, aku tak menginginkan perpisahan yang menyakitkan ini. Tapi aku harus menerimanya.

Dan aku tau.. bila penyesalanku menamparku dengan keras setelah ini.

***

Hari yang seharusnya membahagiakan untukku, berubah menjadi duka. Aku tak menyangka bila kau telah menanggung banyak derita demi diriku. Ku mohon.. maafkanlah aku. 

Keesokan harinya jasadmu telah dimakamkan disamping makam adikmu, seperti keinginanmu yang kau tulis dalam suratmu untuk kedua orang tuamu, aku tak menyangka kau akan meninggalkanku secepat ini.

Beberapa jam setelah pemakamanmu, aku diberi satu kotak yang berisi buku diari, foto, serta kalung. Kau memaparkan segalanya padaku. Mulai dari perselingkuhan kekasihku yang kau sertakan dengan foto sebagai buktinya, tentang kekasihku yang hanya menginginkan hartaku dengan bukti kalung yang ku berikan padanya ternyata ia jual ke toko perhiasan dan kau membelinya kembali, lalu tentang penyakitmu, tentang kau yang berobat kepada ibuku, tentang kau yang sering ke luar negeri karena berobat, dan alasan mengapa kau menyembunyikan segalanya dari orang-orang yang kau kasihi.

Aku menyesal, aku salah mengartikanmu selama ini. Kau hanya bermaksud untuk melindungiku, namun aku malah menarik kesimpulan lain. Mengapa kau tak menyadarkanku saja?! Aku merasa sangat kehilanganmu, di hati ini.. seperti ada sebuah ruang yang kosong karena kepergianmu. 

Aku memutuskan kekasihku setelah tau kebenarannya. Walau dia memohon padaku agar aku mendengarkan semua penjelasannya namun aku tak peduli, aku terlanjur kecewa padanya.

Hari-hari ku berjalan lambat, tanpa kehadiranmu.. tak ada lagi yang dapat mewarnai kehidupanku. Dan aku sadar satu hal setelah satu bulan kau pergi dari sisiku. Bila aku mencintaimu. Dan cinta ini telah bersemayam jauh sebelum aku berpacaran dengan mantan kekasihku, namun aku terlalu naif untuk menganggapnya sebagai perasaan cinta.

Maka biarkan aku menikmati perasaanku yang menyakitkan ini. Biarkan aku menikmati perasaan cinta yang mengundang derita, karena aku tak dapat memilikimu sebagai balasan. 

"Maaf dan terimakasih" Satu kalimat yang kuucap untuk mengakhiri semuanya, aku memilih untuk pergi, menanggalkan semua kenangan ini. Dan mencoba hidup seperti yang kau inginkan. Walau aku tak yakin dapat menjalankannya dengan baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar