Rated: T
(3) Aku mengetahuinya.
Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu, saat kau yang menolongku di persimpangan jalan karena aku yang terlalu ceroboh hingga terserempet mobil.
Aku ingin mengenalmu lebih jauh sejak saat itu, tapi aku hanya tau namamu karena kau yang tiba-tiba pergi setelah mengantarku ke rumah sakit. Tidak.. kau tidak hanya mengantarku, kau bahkan rela mengurus administrasi rumah sakit yang bukan menjadi tanggung jawabmu, mungkin kau merasa kasihan padaku.. karena pelaku yang menyerempetku malah meninggalkanku begitu saja.
Entah mengapa, sejak saat itu aku selalu penasaran tentang mu. Aku selalu mencari dirimu melalui teknologi yang semakin berkembang. Hingga aku mengetahui jika kita satu sekolah.
Aku mulai menjadi stalker untuk mencari tau apapun tentangmu. Aku yang pada awalnya tak mempunyai banyak teman karena terlalu cuek kepada lingkungan sekitar, mulai berteman dengan orang-orang yang sekiranya mereka mengenalmu. Untuk apa? Tentu saja untuk mendapatkan informasi tentangmu.
Hingga aku mengetahui dari salah satu teman yang cukup dekat denganmu, jika kau ternyata menyukai sahabat yang merangkap sebagai teman kecil sekaligus tetanggamu itu.
Saat mengetahui fakta pahit itu, aku langsung mendekatimu secara perlahan. Aku mulai membuat skenario dimana kita akan bertemu dan berkenalan, walau nyatanya aku telah mengenalmu.
Saat kita berkenalan, satu fakta pahit yang harus ku telan lagi. Kau tak mengingatku, mungkin bagimu.. menolong orang adalah suatu perilaku yang baik yang seharusnya tak perlu lagi diingat agar tak menimbulkan rasa pamrih di kemudian hari.
Setelah kita berkenalan, aku mulai gencar mendekatimu walau tak tampak nyata. Aku mulai menyusun skenario secara matang agar tak ada yang curiga apabila aku telah terobsesi padamu.
Terobsesi? Ya.. aku sadar apabila aku tak mencintaimu, aku sadar bila perilaku ku selama ini hanyalah obsesi semata. Aku terobsesi padamu, aku ingin memilikimu untukku, bukan untuk siapapun. Termasuk sahabat yang kau cintai itu.
Bulan silih berganti. Kita semakin dekat. Dan kau semakin frustasi karena cinta yang kau dambakan tak kunjung peka.
Hingga pada puncaknya, aku memilih hari dimana kau terlihat putus asa karenanya. Aku menyatakan perasaanku padamu, memintamu menjadi pacarku. Dan sepertinya aku adalah anak kesayangan dewi fortuna, karena kau menerima permintaanku. Inilah yang kutunggu. Dirimu yang kumiliki.
Satu bulan terlewati begitu saja, aku mulai bosan padamu. Aku ingin putus darimu, tapi aku tak bisa. Tidak saat kau masih bisa kumanfaatkan. Disetiap kencan kita, kau pasti yang membayar semuanya. Makanan, tiket bioskop, tiket wahana permainan, dan lainnya.
Sebenarnya aku tak tega melakukan hal itu padamu, namun aku tak punya pilihan lain. Tanpa -harta- mu, aku tak bisa merasakan kesenangan semacam ini.
Aku lahir di keluarga yang miskin, tidak seperti dirimu yang lahir di keluarga yang kaya. Ibu ku sering jatuh sakit, mengakibatkan diriku harus bekerja dengan giat agar dapat membeli obat untuk ibuku. Hingga kau datang, menawarkan bantuan saat ku terpuruk hingga ingin mati. Kau datang menyelamatkanku dari kecelakaan kecil itu, dan mulai saat itu aku terobsesi padamu.
Aku tau bila aku tak pantas untukmu, tapi aku juga tak rela bila melepasmu.
Hingga di suatu hari, kau mengenalkanku pada keluargamu, Mereka menolakku, beranggapan bila aku tak pantas untukmu. Sebenarnya ucapan mereka benar, dan aku sadar akan hal itu. Tapi kau membelaku, tak peduli dengan apa yang keluargamu katakan, kau pergi meninggalkan mereka begitu saja, menggandengku menuju taman tengah kota. Meminta maaf padaku tentang apa yang keluargamu katakan.
-Hey, sebenarnya akulah yang seharusnya meminta maaf-
Kau meminta pengertian padaku, kau ingin tetap melajutkan hubungan ini. Dan aku menurutinya. Aku sebenarnya bingung. Kau mencintai sahabatmu kan? Lalu kenapa kau memintaku untuk melanjutkan hubungan ini? Seharusnya kau menjadikan kejadian di rumah mu tadi sebagai batu loncatan untuk memutuskanku,.. Tapi aku tak mungkin mengucapkan hal itu padanya. Yang benar saja! Bisa-bisa jika aku mengucapkan segala kalimat yang ada di otak ku sekarang dia akan meminta putus dariku!
Hubungan kita berjalan seperti pasangan kekasih pada umumnya, tapi itu monoton. Maksudku kita tidak pernah bertengkar, setiap kali kita melakukan pertengkaran kau selalu mengalah. Dan itu yang membuatku muak. Maksudku, kau itu terlalu monoton, -sangat monoton-.
Akhirnya aku memutuskan untuk selingkuh, yah.. walaupun aku pernah selingkuh di awal kita pacaran. Tapi itu pun tak bertahan hingga satu bulan. Tapi kali ini, aku benar-benar selingkuh. Maksudku, aku lebih nyaman bersama selingkuhan ku dari pada denganmu yang monoton.
Aku mulai sibuk bersama selingkuhan ku hingga mencuekkanmu. Lebih cuek dari perselingkuhanku dulu.
Lalu bebarapa minggu kemudian, kau mengabarkanku tentang pertunanganmu. Kau meminta ku untuk bertemu, dan aku menurutinya.
Seperti biasanya, kita akan bertemu di taman tengah kota, kau meminta maaf padaku karena kau tak bisa menolak perjodohan itu. Aku merasa bersalah, sebenarnya akulah yang seharusnya meminta maaf padamu, mengakui segala dosa ku padamu. Tapi lagi-lagi aku menahanmu, aku memintamu untuk tetap berada disampingku walau kau sudah memiliki tunangan.
Tiga hari kemudian ibuku meninggal, dan aku jatuh sakit. Dan kau ada disampingku untuk menemaniku. Sejak saat itu aku sadar, entah dari kapan.. tapi aku yakin jika aku mencintaimu. Aku memutuskan selingkuhan ku, dan menetap disampingmu.
Kau menemaniku yang sedang sakit ini, bahkan kau yang membayar biaya perawatanku. Aku tak ingin kau pergi, maka dari itu.. aku menjadikan penyakit ini sebagai alasan utama agar kau tak menghilang dari hidupku.
Setelah aku dinyatakan sembuh, kau mengadakan sebuah perayaan yang cukup romantis di atas atap sebuah bangunan. Ini membuatku terharu, dan aku semakin merasa bersalah padamu.
Hubungan kita semakin membaik dari wakyu ke waktu, dan itu membuatku semakin tenggelam dalam rasa bersalah. Hingga kau mengetahui segalanya, tentang perselingkuhan ku, tentang semuanya.. dari sahabatmu yang telah dinyatakan meninggal beberapa saat lalu.
Kau memutuskan ku, mengakhiri hubungan kita. Dan aku tau, hanya saat inilah waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya. Tapi kau menampik penjelasanku, kau meninggalkanku. Di taman yang menjadi saksi bisu itu.
Mungkin ini adalah akhir dari kisah kita, tidak.. ini memang akhir nya. Aku tenggelam dalam rasa penyesalan. Andai kau tau, jika aku menjual kalung darimu untuk biaya pengobatan ibuku apakah kau akan memaafkanku? Tapi aku tau.. jika tak ada gunanya lagi meminta mu untuk mendangar semua penjelasanku.
Maka dari itu aku memutuskan untuk pergi, meninggalkan kota penuh kenangan tentang dirimu. Dan memulai awal yang baru.
"Selamat tinggal.. kasih."
-END-