Minggu, 17 Juni 2018

Happy in the Dark

Genre: Romance, Hurt/Comfort
Rated: T



(3) Aku mengetahuinya.

Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu, saat kau yang menolongku di persimpangan jalan karena aku yang terlalu ceroboh hingga terserempet mobil.

Aku ingin mengenalmu lebih jauh sejak saat itu, tapi aku hanya tau namamu karena kau yang tiba-tiba pergi setelah mengantarku ke rumah sakit. Tidak.. kau tidak hanya mengantarku, kau bahkan rela mengurus administrasi rumah sakit yang bukan menjadi tanggung jawabmu, mungkin kau merasa kasihan padaku.. karena pelaku yang menyerempetku malah meninggalkanku begitu saja.

Entah mengapa, sejak saat itu aku selalu penasaran tentang mu. Aku selalu mencari dirimu melalui teknologi yang semakin berkembang. Hingga aku mengetahui jika kita satu sekolah.

Aku mulai menjadi stalker untuk mencari tau apapun tentangmu. Aku yang pada awalnya tak mempunyai banyak teman karena terlalu cuek kepada lingkungan sekitar, mulai berteman dengan orang-orang yang sekiranya mereka mengenalmu. Untuk apa? Tentu saja untuk mendapatkan informasi tentangmu.

Hingga aku mengetahui dari salah satu teman yang cukup dekat denganmu, jika kau ternyata menyukai sahabat yang merangkap sebagai teman kecil sekaligus tetanggamu itu.

Saat mengetahui fakta pahit itu, aku langsung mendekatimu secara perlahan. Aku mulai membuat skenario dimana kita akan bertemu dan berkenalan, walau nyatanya aku telah mengenalmu.

Saat kita berkenalan, satu fakta pahit yang harus ku telan lagi. Kau tak mengingatku, mungkin bagimu.. menolong orang adalah suatu perilaku yang baik yang seharusnya tak perlu lagi diingat agar tak menimbulkan rasa pamrih di kemudian hari.

Setelah kita berkenalan, aku mulai gencar mendekatimu walau tak tampak nyata. Aku mulai menyusun skenario secara matang agar tak ada yang curiga apabila aku telah terobsesi padamu.

Terobsesi? Ya.. aku sadar apabila aku tak mencintaimu, aku sadar bila perilaku ku selama ini hanyalah obsesi semata. Aku terobsesi padamu, aku ingin memilikimu untukku, bukan untuk siapapun. Termasuk sahabat yang kau cintai itu.

Bulan silih berganti. Kita semakin dekat. Dan kau semakin frustasi karena cinta yang kau dambakan tak kunjung peka.

Hingga pada puncaknya, aku memilih hari dimana kau terlihat putus asa karenanya. Aku menyatakan perasaanku padamu, memintamu menjadi pacarku. Dan sepertinya aku adalah anak kesayangan dewi fortuna, karena kau menerima permintaanku. Inilah yang kutunggu. Dirimu yang kumiliki.

Satu bulan terlewati begitu saja, aku mulai bosan padamu. Aku ingin putus darimu, tapi aku tak bisa. Tidak saat kau masih bisa kumanfaatkan. Disetiap kencan kita, kau pasti yang membayar semuanya. Makanan, tiket bioskop, tiket wahana permainan, dan lainnya.

Sebenarnya aku tak tega melakukan hal itu padamu, namun aku tak punya pilihan lain. Tanpa -harta- mu, aku tak bisa merasakan kesenangan semacam ini.

Aku lahir di keluarga yang miskin, tidak seperti dirimu yang lahir di keluarga yang kaya. Ibu ku sering jatuh sakit, mengakibatkan diriku harus bekerja dengan giat agar dapat membeli obat untuk ibuku. Hingga kau datang, menawarkan bantuan saat ku terpuruk hingga ingin mati. Kau datang menyelamatkanku dari kecelakaan kecil itu, dan mulai saat itu aku terobsesi padamu.

Aku tau bila aku tak pantas untukmu, tapi aku juga tak rela bila melepasmu.

Hingga di suatu hari, kau mengenalkanku pada keluargamu, Mereka menolakku, beranggapan bila aku tak pantas untukmu. Sebenarnya ucapan mereka benar, dan aku sadar akan hal itu. Tapi kau membelaku, tak peduli dengan apa yang keluargamu katakan, kau pergi meninggalkan mereka begitu saja, menggandengku menuju taman tengah kota. Meminta maaf padaku tentang apa yang keluargamu katakan.

-Hey, sebenarnya akulah yang seharusnya meminta maaf-

Kau meminta pengertian padaku, kau ingin tetap melajutkan hubungan ini. Dan aku menurutinya. Aku sebenarnya bingung. Kau mencintai sahabatmu kan? Lalu kenapa kau memintaku untuk melanjutkan hubungan ini? Seharusnya kau menjadikan kejadian di rumah mu tadi sebagai batu loncatan untuk memutuskanku,.. Tapi aku tak mungkin mengucapkan hal itu padanya. Yang benar saja! Bisa-bisa jika aku mengucapkan segala kalimat yang ada di otak ku sekarang dia akan meminta putus dariku!

Hubungan kita berjalan seperti pasangan kekasih pada umumnya, tapi itu monoton. Maksudku kita tidak pernah bertengkar, setiap kali kita melakukan pertengkaran kau selalu mengalah. Dan itu yang membuatku muak. Maksudku, kau itu terlalu monoton, -sangat monoton-.

Akhirnya aku memutuskan untuk selingkuh, yah.. walaupun aku pernah selingkuh di awal kita pacaran. Tapi itu pun tak bertahan hingga satu bulan. Tapi kali ini, aku benar-benar selingkuh. Maksudku, aku lebih nyaman bersama selingkuhan ku dari pada denganmu yang monoton.

Aku mulai sibuk bersama selingkuhan ku hingga mencuekkanmu. Lebih cuek dari perselingkuhanku dulu.

Lalu bebarapa minggu kemudian, kau mengabarkanku tentang pertunanganmu. Kau meminta ku untuk bertemu, dan aku menurutinya.

Seperti biasanya, kita akan bertemu di taman tengah kota, kau meminta maaf padaku karena kau tak bisa menolak perjodohan itu. Aku merasa bersalah, sebenarnya akulah yang seharusnya meminta maaf padamu, mengakui segala dosa ku padamu. Tapi lagi-lagi aku menahanmu, aku memintamu untuk tetap berada disampingku walau kau sudah memiliki tunangan.

Tiga hari kemudian ibuku meninggal, dan aku jatuh sakit. Dan kau ada disampingku untuk menemaniku. Sejak saat itu aku sadar, entah dari kapan.. tapi aku yakin jika aku mencintaimu. Aku memutuskan selingkuhan ku, dan menetap disampingmu.

 Kau menemaniku yang sedang sakit ini, bahkan kau yang membayar biaya perawatanku. Aku tak ingin kau pergi, maka dari itu.. aku menjadikan penyakit ini sebagai alasan utama agar kau tak menghilang dari hidupku.

Setelah aku dinyatakan sembuh, kau mengadakan sebuah perayaan yang cukup romantis di atas atap sebuah bangunan. Ini membuatku terharu, dan aku semakin merasa bersalah padamu.

Hubungan kita semakin membaik dari wakyu ke waktu, dan itu membuatku semakin tenggelam dalam rasa bersalah. Hingga kau mengetahui segalanya, tentang perselingkuhan ku, tentang semuanya.. dari sahabatmu yang telah dinyatakan meninggal beberapa saat lalu.

Kau memutuskan ku, mengakhiri hubungan kita. Dan aku tau, hanya saat inilah waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya. Tapi kau menampik penjelasanku, kau meninggalkanku. Di taman yang menjadi saksi bisu itu.

Mungkin ini adalah akhir dari kisah kita, tidak.. ini memang akhir nya. Aku tenggelam dalam rasa penyesalan. Andai kau tau, jika aku menjual kalung darimu untuk biaya pengobatan ibuku apakah kau akan memaafkanku? Tapi aku tau.. jika tak ada gunanya lagi meminta mu untuk mendangar semua penjelasanku. 

Maka dari itu aku memutuskan untuk pergi, meninggalkan kota penuh kenangan tentang dirimu. Dan memulai awal yang baru.

"Selamat tinggal.. kasih."

-END-

Jumat, 01 Juni 2018

Happy in the Dark

Genre: Romance, Hurt/Comfort 
Rated: T

(2) Aku menyesalinya. 



Kau adalah sahabatku. Orang yang paling ku percaya. Sekaligus orang yang berkhianat padaku. Ingin ku tampik kenyataan apabila dirimulah penyebab renggangnya hubunganku dengan kekasihku. Namun ku tak bisa.

Aku membencimu. Itulah yang tertera di hatiku setelah kau memaksaku sekaligus mengancamku untuk menerima perjodohan yang kau tawarkan. Tawarkan..? Kheh.. lebih tepat jika disebut pemaksaan.

Sejak kapan kau menjadi perusak hubungan orang seperti ini? Sebegitu putus asanyakah kau karena tak mendapatkan jodohmu..? Tapi mengapa aku? Mengapa hubunganku lah yang kau rusak?

Kau tau, aku sudah cukup sakit hati saat ibu membandingkan kekasihku dengan mu. Entah apa yang dilihat ibu darimu. Dasar pengkhianat!

Karena dirimu hubunganku dengannya menjadi semakin renggang. Apa kau memanfaatkan situasi dimana aku telah bercerita kepadamu bila dia tak dapat dihubungi karena sibuk? Jika memang benar begitu, aku menyesal karena telah membiarkan diriku sendiri menceritakannya padamu.

Banyak pertanyaan yang terlintas dalam kepalaku. Mengapa kau merusak hubunganku dengannya? Apa kau menyukaiku? Masih bisakah aku menganggapmu sebagai sahabat? Masih bisakah aku mempercayaimu?

Kau tau, kita tumbuh dan berkembang bersama. Kau telah ku anggap sebagai saudara sendiri, namun mengapa kau bersikap demikian terhadapku? Apa salahku?

Jika kau ingin membantu ayahku yang dilanda pailit dalam perusahaannya, maka lakukanlah tanpa pamrih. Kau takut keluarga kami kabur setelah mendapat suntikan dana dari keluargamu? Yang benar saja! Kami bukanlah kacang yang lupa kulitnya!

Aku mengacuhkanmu bukan karena aku ingin. Aku mengabaikan eksistensimu juga bukan karena aku ingin. Tapi karena kekasihku yang memintanya, karena kekasihku akan kembali kepadaku apabila aku mengacuhkan dan mengabaikan eksistensimu. Menganggap seolah kau tak pernah ada. Dan aku melakukannya.

Hubungan kami semakin membaik. Tapi itu tak menjamin apa-apa. Kau, dengan segala rencana yang telah tersusun rapi dalam kepalamu menghancurkan semua usahaku. Kau mencuri semua waktu yang kusediakan untuknya, dan aku membenci mu karena aku harus memberikan waktu yang seharusnya menjadi miliknya kepadamu karena kau mengancamku.

Oh.. ayolah,. Kupikir kau tak sekejam itu. Aku pernah mengabaikan permintaanmu untuk menemanimu makan siang karena waktu itu aku juga mempunyai janji dengan kekasihku untuk makan siang, tapi ternyata kau mengancam ku, tidak.. kau bahkan melakukan ancaman mu. Ternyata selama ini aku salah. Sahabat yang ku kira baik padaku entah dari kapan telah menjelma sebagai iblis yang jahat!

Aku menurutimu bagai budak yang menuruti tuannya. Tapi setidaknya kau memberikanku kebebasan dengan cara kau yang sering pergi ke luar negeri tanpa mengajakku. Tentu saja aku takkan menyia-nyiakan kesempatan itu, aku pergi dan melakukan apapun yang kuinginkan bersama kekasihku saat aku tak sedang dalam jangkauanmu. Apakah aku sudah bilang jika aku tetap berpacaran dengannya walau aku dan kau dijodohkan..? Bagiku masa bodoh dengan perjodohan itu, yang terpenting adalah aku dan kekasih ku masih dapat melanjutkan hubungan ini walau tanpa restu sekalipun.

***

Tak terasa 11 bulan sudah terlewati, tapi entah mengapa akhir-akhir ini kau sering bepergian ke luar negeri dan jarang menemuiku lagi. Itu bagus, setidaknya aku tak perlu repot-repot mencuri waktu hanya untuk berduaan dengan kekasihku.

Hingga hari itu tiba, saat kau memintaku untuk menemanimu yang tengah berbaring di ranjang rumah sakit. Kau tau, sebenarnya aku bingung mengapa kau menyuruhku menemanimu yang hanya berbaring disana. Jika kau hanya ingin menarik simpatiku, maaf.. aku sangat tak bersimpati padamu jika kau berpura-pura menjadi orang sakit. Tapi satu hal yang ku tau, dalam lubuk hatiku aku masih mengkhawatirkanmu, tapi melihat apa yang telah kau perbuat terhadapku selama ini.. entah mengapa rasa khawatirku hillang begitu saja dalam sekejap.

Kau sangat cerewet untuk ukuran orang sakit, kau bercerita tentang indahnya masa kita yang dulu. Tapi aku menghiraukan semuanya. Namun aku bingung saat kau tiba-tiba menghentikan celotehmu dan mulai menggengggam tanganku lalu menangis. Jika aku bisa jujur pada diriku sendiri, sebenarnya aku khawatir, tapi ego ini sangat tinggi untuk ku rendahkan barang secenti. Semua berlalu cepat, kau semakin erat menggenggam tanganku dan menangis semakin deras, tapi aku tak membalas genggaman tanganmu karena aku yakin ini hanyalah bagian dari sandiwaramu. Hingga kau menyuruhku untuk tersenyum, dan aku melakukannya. Walau tak ikhlas. Kau membalas senyumanku dengan senyuman mirismu, lalu dengan terbata kau mengucapkan..

"Aku meninggalkan hadiah yang istimewa untukmu, ini adalah kado terakhirku untukmu. Setelah ini berbahagialah, pilihlah pengantin yang baik dan sepadan denganmu karena aku tak lagi ada untukmu. Kau harus memilih dengan benar, karena tak ada lagi diriku yang akan memastikan apakah memang benar dialah yang kau pilih yang cocok menjadi pengantinmu kelak. Aku akan pergi, menjauh dari hidupmu, dan tak akan menganggumu lagi. Aku melepasmu dari segala belenggu ini. Satu hal yang ingin ku utarakan dari dulu. Aku mencintaimu.. selalu.. dan selamanya."

Lalu kau menutup mata dan perlahan genggaman tanganmu mengendur. Awalnya aku tak bereaksi apa-apa. Hingga satu menit kemudian kau tak bergerak aku mulai panik, ku periksa aliran napas dari hidungmu yang telah tiada, ku dengarkan detak jantungmu yang ku harap masih ada namun nyatanya tidak, aku dengan tergesa memanggil dokter namun saat aku membuka pintu kamar inapmu aku menemukan ibuku yang menangis pilu sedang bersandar di dinding dekat pintu. Aku tak bodoh, aku dapat menyimpulkan.. ibuku yang seorang dokter.. menangis didepan kamar pasien.. pasti beliau telah mengetahui segalanya. Dan entah sejak kapan aku menitikkan  air mata untuk pengkhianat sepertimu, kau meninggalkanku. Aku memang senang akan kenyataan itu, itu artinya aku terbebas darimu. Tapi bukan ini yang ku mau, aku tak menginginkan perpisahan yang menyakitkan ini. Tapi aku harus menerimanya.

Dan aku tau.. bila penyesalanku menamparku dengan keras setelah ini.

***

Hari yang seharusnya membahagiakan untukku, berubah menjadi duka. Aku tak menyangka bila kau telah menanggung banyak derita demi diriku. Ku mohon.. maafkanlah aku. 

Keesokan harinya jasadmu telah dimakamkan disamping makam adikmu, seperti keinginanmu yang kau tulis dalam suratmu untuk kedua orang tuamu, aku tak menyangka kau akan meninggalkanku secepat ini.

Beberapa jam setelah pemakamanmu, aku diberi satu kotak yang berisi buku diari, foto, serta kalung. Kau memaparkan segalanya padaku. Mulai dari perselingkuhan kekasihku yang kau sertakan dengan foto sebagai buktinya, tentang kekasihku yang hanya menginginkan hartaku dengan bukti kalung yang ku berikan padanya ternyata ia jual ke toko perhiasan dan kau membelinya kembali, lalu tentang penyakitmu, tentang kau yang berobat kepada ibuku, tentang kau yang sering ke luar negeri karena berobat, dan alasan mengapa kau menyembunyikan segalanya dari orang-orang yang kau kasihi.

Aku menyesal, aku salah mengartikanmu selama ini. Kau hanya bermaksud untuk melindungiku, namun aku malah menarik kesimpulan lain. Mengapa kau tak menyadarkanku saja?! Aku merasa sangat kehilanganmu, di hati ini.. seperti ada sebuah ruang yang kosong karena kepergianmu. 

Aku memutuskan kekasihku setelah tau kebenarannya. Walau dia memohon padaku agar aku mendengarkan semua penjelasannya namun aku tak peduli, aku terlanjur kecewa padanya.

Hari-hari ku berjalan lambat, tanpa kehadiranmu.. tak ada lagi yang dapat mewarnai kehidupanku. Dan aku sadar satu hal setelah satu bulan kau pergi dari sisiku. Bila aku mencintaimu. Dan cinta ini telah bersemayam jauh sebelum aku berpacaran dengan mantan kekasihku, namun aku terlalu naif untuk menganggapnya sebagai perasaan cinta.

Maka biarkan aku menikmati perasaanku yang menyakitkan ini. Biarkan aku menikmati perasaan cinta yang mengundang derita, karena aku tak dapat memilikimu sebagai balasan. 

"Maaf dan terimakasih" Satu kalimat yang kuucap untuk mengakhiri semuanya, aku memilih untuk pergi, menanggalkan semua kenangan ini. Dan mencoba hidup seperti yang kau inginkan. Walau aku tak yakin dapat menjalankannya dengan baik.