Rated: T
(1) Aku mencintai mu.
Aku tau aku salah. Caraku untuk mendapatkanmu memang dapat disebut jahat. Tapi aku tak peduli, selama aku dapat meraihmu dan dapat melihatmu, menggapaimu yang masih dalam jangkauan ku. Aku merasa.. senang.
Ku korbankan segalanya untuk hubungan ini. Kebahagiaan mu, kebahagiaan ku, dan kebahagiaan nya. Kebahagiaan ku? Aku sedang tidak bercanda, bukankah melihat orang yang dicintai bahagia maka kau akan ikut bahagia? Tidak, itu semua adalah sebuah omong kosong seseorang yang tak dapat meraih cintanya. Dan aku, tak ingin menjadi seseorang yang seperti itu. Biarlah aku memiliki mu. Walau hanya sebentar, sekalipun tak dianggap.. itu tak masalah untuk ku. Bukankah sedari awal memang aku lah yang mengejar mu? Maka biarlah seperti itu, kau.. hanya cukup diam disana, dan menatap perjuangan ku untuk meraih mu, meraih hati mu, dan merebut cinta mu. Walau ku tahu ini akan berakhir sia- sia.
Jika kau mengira aku tak tau bila kau telah mempunyai kekasih, maka kau salah besar. Aku tau sedari awal, tapi tetap saja memaksakan perjodohan ini dengan alibi perusahaan ayah mu sedang pailit.
Anggaplah aku seseorang yang jahat. Tidak, aku memang jahat. Tapi seperti aku peduli saja. Aku selalu merebut waktu yang kau sediakan untuk nya, karena itu kau membenci ku. Tapi taukah kau.. apabila waktu yang ku miliki lebih berharga dari pada waktu yang kau miliki? Kita telah berteman sejak kecil, tapi ku tau bahwa kau hanya menganggap ku sebagai teman dekat.. tidak, lebih tepatnya sahabat. Dan sahabat inilah yang menghancurkan hubungan mu dengan nya.
Ku tau, bahwa kau telah merahasiakan hubungan mu dengan nya selama lebih dari 2 tahun dari orang tua mu karena dia yang kau cintai tak sepadan dengan mu, itulah pendapat orang tua mu saat kau memperkenalkan dirinya.
Tapi sepandai apapun tupai melompat, pada akhirnya ia jatuh juga.. kan? Aku tau hubungan yang kau rahasiakan dan aku menggunakan itu untuk mengancam mu apabila kau menolak perjodohan ini. Dan tentu saja.. kau menerima perjodohan ini dengan berat hati.
Aku tau jika kau tak mengetahui apapun tentang ku walau kita telah berteman sejak kecil. Karena dari dulu sampai sekarang.. aku lah yang mengetahui apapun tentang mu, aku lah mengerti apapun masalah mu, karena hanya kepadaku lah kau selalu menceritakan segalanya. Tidak kepada kakak mu, maupun orang tua mu.
Kau tak pernah ingin mengetahui apapun masalah ku, dan aku tak keberatan dengan itu. Maksudku.. aku tak akan berbagi masalah dengan mu karena aku tau masalah yang kau hadapi cukup rumit.
Kau tak pernah berpikir bila aku lah yang akan menghancurkan hubungan mu dengannya, aku pun begitu. Tapi hati ini memanas saat aku mengetahui dia yang kau cintai sedang berselingkuh dibelakang mu. Taukah kau akan hal itu?
Ku katakan sekali lagi, aku selalu mengetahui apapun tentang mu. Aku rela menjadi stalker hanya untuk memastikan jika hubungan kalian dalam keadaan baik-baik saja saat kau menceritakan dia yang kau cintai tak dapat dihubungi akhir-akhir ini karena sibuk. Dan aku menemukan fakta yang gila itu.
Kau kira setelah mengetahui itu aku akan menceritakannya padamu? Tidak, aku bukanlah orang yang bodoh. Aku tau kau telah dibutakan oleh cinta. Dan cinta yang kau rasakan itulah yang membuat ku memutuskan hal gila lainnya.
Aku menjadi jahat, aku merusak hubungan kalian yang sedari awal memang sudah rusak. Aku memutuskan untuk menjadi tokoh antagonis yang masuk dalam kisah cinta mu. Taukah kau bahwa tokoh antagonis sebenarnya adalah dia yang kau cintai? Tapi sekali lagi ku tegaskan, sekalipun kau mengetahui dia berselingkuh, kau akan memaafkannya. Cinta itu buta kan..? Dan itulah yang membuat ku muak.
Entah mengapa aku setuju dengan pendapat orang tua mu, apabila dia memang tak sepadan dengan mu. Dan taukah kau? Kenyataan lainnya yang kutemukan adalah.. ternyata orang tua mu, bahkan pernah menyelidiki apapun kegiatan yang dilakukan dia yang kau cintai. Makanya mereka tak memberi restu.
Aku mencintai mu, selalu. Dan cinta ini akan mengalir selamanya. Sedangkan kau membenci ku, dan itu karena ku. Lucu sekali bukan? Kenapa rasanya harus sesakit ini hanya untuk mencintai mu?
Fonis ku jatuh pada bulan depan, tepat pada ulang tahun mu. Aku akan memberitahu segalanya yang ku dapat -ketahui- sebagai salam perpisahan, dan sebagai kado terakhir untuk mu.
Apa kau akan menyesal setelah itu? Aku tak ingin -berani- membayangkan nya. Ekspresi seperti apakah yang akan kau tunjukan? Apakah sedih? Atau senang?
Jika kau tau bila masa ku tak lagi banyak, aku tau kau akan rela memutuskan kekasih (sialan) mu itu dengan mudah hanya untuk menemani ku. Tapi ku tau, bahwa itu hanyalah rasa kasihan. Dan aku tak mau menjadi orang yang dikasihani karena aku memang tak perlu dikasihani. Aku hanya memerlukan dirimu di sisiku sampai aku menutup mata untuk selamanya. Setelah itu kau bebas.
Kau tak mengetahui apa yang kuderita, dan aku memaklumi hal itu. Bahkan aku memang sengaja menyembunyikan nya dari mu. Ku ulangi, kau akan tau pada akhir cerita ku. Segalanya.. segalanya yang ingin kau ketahui, akan ku paparkan dengan jelas. Tapi tunggu.. tunggu hingga aku dapat menikah dengan kematian. Hingga hari itu tiba, tutuplah mata mu terhadap apapun yang menyakiti mu. Seperti biasanya. Dan biarkan aku yang menanggungnya.
Aku rela menjadi orang yang kau benci karena nya. Aku rela menanggung rasa benci yang seharusnya kau tujukan untuk nya. Karena aku tau, bila hanya dia lah yang dapat memberi mu kebahagiaan. Hanya dia.. yang dapat menerbitkan senyum mu dengan mudah. Maka dari itu aku bertahan, supaya kau dapat tersenyum.. walau bukan karena ku. Dan tak ditujukan untuk ku. Tapi seperti aku peduli saja, asal aku dapat melihat senyum mu, itu sudah lebih dari cukup.
Anggaplah aku orang yang naif. Tidak, aku memang naif. Tapi orang naif inilah yang mencintai mu tiada henti.
***
Empat hari yang lalu, aku telah memberitahu orang tua ku apabila aku akan pergi jauh, dan mereka tak bertanya lebih jauh. Aku mengerti, karena aku memang sering bepergian ke luar negeri. Saat mereka bertanya mengapa aku sering pergi ke luar negeri, aku hanya menjawab untuk melepas penat, aku tak berbohong.. sungguh. Namun itu hanyalah alasan ke sekian ku agar dapat menghindari pertanyaan mereka lebih jauh lagi. Alasan utama ku sering pergi ke luar negeri adalah karena aku harus berobat.
Dan di penghujung kisah ku, aku ingin kau menemani ku yang tengah berbaring di ranjang rumah sakit. Ya.. hanya berbaring, karena aku telah meminta dokter untuk mencabut semua alat-alat penopang hidup ku selama 3 hari terakhir ini. Aku tetap menyembunyikan semuanya, tentang penyakit yang selama ini ku derita dari orang-orang yang ku sayang. Aku telah mencapai batas ku.
***
Empat hari yang lalu, aku telah memberitahu orang tua ku apabila aku akan pergi jauh, dan mereka tak bertanya lebih jauh. Aku mengerti, karena aku memang sering bepergian ke luar negeri. Saat mereka bertanya mengapa aku sering pergi ke luar negeri, aku hanya menjawab untuk melepas penat, aku tak berbohong.. sungguh. Namun itu hanyalah alasan ke sekian ku agar dapat menghindari pertanyaan mereka lebih jauh lagi. Alasan utama ku sering pergi ke luar negeri adalah karena aku harus berobat.
Dan di penghujung kisah ku, aku ingin kau menemani ku yang tengah berbaring di ranjang rumah sakit. Ya.. hanya berbaring, karena aku telah meminta dokter untuk mencabut semua alat-alat penopang hidup ku selama 3 hari terakhir ini. Aku tetap menyembunyikan semuanya, tentang penyakit yang selama ini ku derita dari orang-orang yang ku sayang. Aku telah mencapai batas ku.
Hanya satu kalimat yang ingin ku dengar darimu di penghujung kisah ku. Tapi ku tau, aku tak kan pernah mendengarnya apabila aku tak memaksa mu. Karena rasa benci mu yang sepertinya telah mendarah daging.
Sebenarnya aku ingin mendengar nya. Tapi apabila kau mengatakan nya karena aku yang memaksa mu, itu sama saja dengan omong kosong. Dan itu akan -sangat- menyakiti ku. Aku tak mau tersakiti lagi, tidak saat aku telah tiba di penghujung kisah ku. Maka dari itu aku memutuskan, untuk membuat mu menemani ku untuk yang terakhir kali sambil mengenang masa-masa indah tentang kita. Aku tau kau tak menghiraukan semua ucapan ku. Tapi tetap saja mulut ini tak bisa berhenti berceloteh.
Hingga aku melihat pengantin -malaikat maut- ku datang. Aku hanya dapat tersenyum dan menitikkan air mata. Aku tau inilah saat nya untuk pergi. Tapi aku tak rela berpisah dengan mu. Dengan sekuat tenaga aku meraih tangan mu dan menggenggam nya, walau kau tak balas menggenggam ku, aku hanya bisa tersenyum pilu. Bahkan sampai akhir pun aku tak bisa meraih akhir yang bahagia di penghujung kisah ku. Dengan terbata aku mengucapkan nya, walau ku tau kau tak kan membalas. Tapi biarkan aku membawanya sampai akhir. Selamat tinggal, kasih.
"Aku mencintai mu, selalu.. dan selamanya."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar